A.
Latar Belakang
Pentingnya Konseling Keluarga
Sumber penyebab masalah yang muncul pada seseorang /
individu, cenderung berasal dari keluarga.
Sakitnya seorang anggota keluarga (secara psikis),
cenderung bukanlah disebabkan oleh dirinya sendiri, namun karena interaksi
dengan anggota keluarga lainnya sebagai sistem keluarga yang telah terganggu.
Terjadinya maladjusted pada seseorang
dalam keluarga, akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
Hubungan diantara kedua orang tua,
sangat mempengaruhi terhadap hubungan antara anggota keluarga sebagai sistem.
B.
Pengertian
Konseling Keluarga
Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh
seseorang pembimbing (konselor) kepada seseorang konseli atau sekelompok
konseli (klien, terbimbing, seseorang yang memiliki problem) untuk mengatasi
problemnya dengan jalan wawancara dengan maksud agar klien atau sekelompok
klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri dan memecahkan
problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan mempelajari saran-saran
yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari keluarga adalah suatu ikatan
persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan
jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang
sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi
dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.
Bimbingan dalam keluarga merupakan suatu proses
pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang
dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu,
dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungan keluarganya serta
dapat mengarahkan diri dengan baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan
untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan
dirinya dan kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk kesejahteraan
keluarganya.
Sedangkan definisi bimbingan konseling keluarga
menurut para hali lainnya Proses upaya bantuan yang diberikan kepada individu
sebagai anggota keluarga, baik dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun
dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan
melalui pendekatan sistem.
Suatu proses interakif untuk membantu keluarga
dalam mencapai keseimbangan, dimana setiap anggota keluarga memperoleh pencapaian
kebahagiaan secara utuh.
Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan
konseling pada situasi yang khusus. Konseling keluarga ini secara memfokuskan
pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya
melibatkan anggota keluarga. Menurut D. Stanton konseling keluarga dapat
dikatakan sebagai konselor terutama konselor non keluarga, yaitu konseling
keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien adalah anggota dari suatu
kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan keluarga inti atau
pasangan ( Capuzzi, 1991 )
Konseling keluarga memandang keluarga secara
keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan
dari anak (klien) baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya.
Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan
efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya
konseling keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak agar dapat
beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan
lingkungan keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi klien adalah
orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan masalah
yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan dikerjakan
agar tetap survive di dalam sistem keluarganya.
C.
Fungsi dan
Manfaat Bimbingan Konseling dalam Keluarga
1.
Fungsi Pemahaman
Yaitu fungsi bimbingan yang membantu
klien agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, diharapkan
mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya
dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
2.
Fungsi Preventif
Yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya
konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi
dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh klien. Melalui fungsi
ini, konselor memberikan bimbingan kepada klien tentang cara menghindarkan diri
dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang
dapat digunakan adalah layanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok.
Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para klien dalam rangka mencegah
terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan.
3.
Fungsi
Pengembangan
Yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya
lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan
klien. Konselor secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama
merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan
berkesinambungan dalam upaya membantu klien mencapai tugas-tugas
perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah layanan
informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),
home room, dan karyawisata.
4.
Fungsi Perbaikan
(Penyembuhan)
Yaitu fungsi bimbingan yang bersifat
kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada klien
yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar,
maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial
teaching.
5.
Fungsi
Penyaluran
Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu
klien memilih kegiatan, atau program apa dalam memantapkan penguasaan karir
atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri
kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama
dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga.
6.
Fungsi Adaptasi
Yaitu fungsi membantu para pelaksana
pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf,
konselor, dan guru untuk
menyesuaikan program pendidikan terhadap
latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa (siswa).
Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai siswa, pembimbing/konselor
dapat membantu para guru dalam memperlakukan siswa secara tepat, baik dalam
memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses
pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan
kecepatan siswa.
7.
Fungsi
Penyesuaian
Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu
klien agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis
dan konstruktif.
Sedangkan manfaat pelaksanaan bimbingan konseling
dalam keluarga adalah :
a.
Menurunkan
bahkan menghilangkan stres dalam diri anggota keluarga.
b.
Membuat diri
lebih baik, tenang, nyaman, dan bahagia.
c.
Lebih memahami
diri sendiri dan orang lain khususnya anggota keluarga yang lain
d.
Merasakan
kepuasan dalam hidup.
e.
Mendorong
perkembangan personal.
f.
Membangkitkan
motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, berkarakter, dan percaya
diri.
g.
Anggota keluarga
lebih merasa dirinya dipedulikan dan diperhatikan serta lebih dihargai
peranannya dalam keluarga.
h.
Lebih menghargai
makna dan hakikat kehidupan dan menerima semua kenyataan yang terjadi dalam
kehidupannya.
i.
Mengurangi
bahkan menghilangkan konfilik/tekanan batin yang bergejolak dalam diri individu
dan dalam keluarga tersebut.
j.
Meningkatkan
hubungan yang lebih efektif dengan anggota keluarga yang lain bahkan dengan
orang lain diluar keluarganya.
D.
Masalah -
Masalah Keluarga
Pada masa lalu, menurut Moursuned (1990), konseling
keluarga terfokus pada salah satu atau dua hal, yaitu :
1.
keluarga dengan
anak yang mengalami gangguan yang berat seperti gangguan perkembangan dan
skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami gangguan; dan
2.
keluarga yang
salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki kemampuan, menelantarkan anggota
keluarganya, salah dalam membri kelola anggota keluarga, dan biasanya memiliki
berbagai masalah.
Anak di dalam suatu keluarga seringkali
mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang tidak berdaya di bawah tekanan
dan kekuasaan orang tua. Permasalahan anak ada kalanya dikketahhui oleh orang
tua dan seringkali tidak diketahui orang tua. Permasalahan yang diketahui
oorang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan pendidiikannya terganggu. Orang
tua akan mengghantarkan anaknya ke
konselor jika mereka memahami bahwa anaknya sedang menghadapi masalah atau
sedang mengalami gangguan yang berat. Karena iitu konseling keluarga lebih banyak memberikan peayanan terhadap keluaga
dengan anak yang mengalami gangguan.
Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua.
Banyak di jumpai orang tua tidak berkemammpuan dalam mengelola rumah tangganya,
menelanntarkan kehidupan romah tanggannya sehingga tidak terjadi kondisi yang
berkeseimbangan dan penuh konflik, atau memberi perlakuan secara salah
(abuse) kepada anggoota keluarga lain, dan sebagainya merupakan keluarga
yang memiliki berbagai masalah. Jika
mengerti, dan berkeinginan untuk membangun kehidupan keluarga yang lebih
stabil, mereka membutuhkan konseling
Perkembangan belakangan konseling keluarga tidak
hanya menangani dua hal tersebut, permasalahan yang ketiga karena mengalami
kondisi yang kurang harmoni di dalam keluarga, akibat stressor
perubahan-perubahan budaya, cara-cara baru dalam mengatur keluarganya, dan cara
menghadapi dan mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam
penanganan konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan di konsultasikan
kepada konselor antara lain :
1.
keluarga dengan
anak yang tidak patuh terhadap harapan orang tua
2.
konflik antara
anggota keluarga
3.
perpisahan
diantara aggota keluarga karena kerja di luar daerah
4.
anak yang
mengalami kesulitan belajar / sosialisasi
Berbagai permasalahan-permasalahan
keluarga tersebut dapat di selesaikan melalui konsleing keluarga. Konseling
keluarga menjadi efektif untuk mengatasi maslah-masalah tersebut jika semua
anggota keluarga ersedia untuk mengubah sistem keluarganya yang telah ada
dengan cara-cara baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang
bermasalah.
Sebagaimana di kemukakan dibagian awal,
konseling keluarga dalam beberapa hal memiliki keuntungan. Namun demikian,
konseling keluarga juga memiliki beberapa hambatan dalam pelaksanaanya, dan perlu
dipertimbangkan oleh konselor jika bermaksud melakukannya. Hambatan yang di
maksud diantaranya :
Tidak semua anggota keluarga bersedia
terlibat dalam proses konseling karena mereka menganggap tidak berkepentingan
dengan usaha ini, atau karena alas an kesibukan, dan sebagainya. Ada anggota
keluarga yang merasa kesulitan untuk menyampaikan perasaan dan sikapnya secara
terbuka dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling membutuhkan
keterbukaan ini dan saling kepercayaan satu dengan lainnya. Usaha konselor dan
aggota keluarga dalam mengatasi hambatan-hambatan ini sangat membantu bagi
kelancaran dan keberhasilan konseling
E.
Pendekatan
Konseling Keluarga
Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan
bagaimana cara mengatasi masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan
dideskripsikan secara singkat beberapa pendekatan konseling keluarga. Tiga
pendekatan konseling keluarga yang akan diuraikan berikut ini, yaitu pendekatan
system, conjoint, dan struktural :
1.
Pendekatan
Sistem Keluarga
Murray Bowen merupakan peletek dasar
konseling keluarga pendekatan sistem. Menurutnya anggota keluarga itu
bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (disfunctining family). Keadaan
ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat membebaskan dirinya dari peran
dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka.
Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang
dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat
anggota keluarga melawan yang mengarah pada individualitas. Sebagian anggota
keluarga tidak dapat menghindari sistem keluarga yang emosional yaitu yang
mengarahkan anggota keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak
menghindari dari keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri
dari sistem keluarga. Dengan demikian dia harus membuat pilihan berdasarkan
rasionalitasnya bukan emosionalnya.
2.
Pendekatan
Conjoint
Sedangkan menurut Sarti (1967) masalah yang dihadapi
oleh anggota keluarga berhubungan dengan harga diri (self-esteem) dan komunikasi.
Menurutnya, keluarga adalah fungsi penting bagi keperluan komunikasi dan
kesehatan mental. Masalah terjadijika self-esteem yang dibentuk oleh keluarga
itu sangat rendah dan komunikasi yang terjadi di keluarga itu juga tidak baik.
Satir mengemukakan pandangannya ini berangkat dari asumsi bahwa anggota
keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan
keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.
3.
Pendekatan
Struktural
Minuchin (1974) beranggapan bahwa masalah keluarga
sering terjadi karena struktur kaluarga dan pola transaksi yang dibangunn tidak
tepat. Seringkali dalam membangun struktur dan transaksi ini batas-batas antara
subsistem dari sistem keluarga itu tidak jelas.
Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusun
kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota
keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga itu dengan memperbaiki
transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.
Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan
memperkaya pemahaman konselor untuk melihat masalah apa yang sedang terjadi,
apakah soal struktur, pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan
sebagainya. Berangkat dari analisis terhadap masalah yang dialami oleh keluarga
itu konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk mambantu keluarga.
F.
Tujuan Konseling
Keluarga
Menurut
Shertzer dan Stone,(1980)
tujuan konseling antara
lain:
1.
Mengadakan perubahan
perilaku pada diri
konseling sehingga memungkinkan hidupnya lebih
produktif dan memuaskan,
2.
Memelihara dan
mencapai kesehatan mental
yang positif. Jika
hal ini tercapai,
maka individu mencapai
integrasi, penyesuaian, dan
identifikasi positif dengan
yang lainnya. ia
belajar menerima tanggung
jawab, berdiri sendiri,
dan memperoleh integrasi
perilaku,
3.
Pemecahan masalah.
Hal ini, berdasarkan
kenyataan bahwa individu
- individu yang
mempunyai masalah tidak
mampu menyelesaikan masalah
yang dihadapinya. Disamping
itu biasanya siswa
datang pada konselor
karena ia percaya
bahwa konselor dapat
membantu memecahkan masalahnya,
4.
Mencapai keefektifan
pribadi
5.
Mendorong individu
mampu mengambil keputusan
yang penting bagi
dirinya. Jelas disini
bahwa, pekerjaan konselor
bukan menentukan keputusan
yang harus diambil
oleh konseli atau
memilih alternatif dari
tindakannya.
6.
Keputusan -
keputusan ada pada
diri konseli sendiri,
dan ia harus
tau mengapa dan
bagaimana ia melakukannya.
Oleh sebab itu,
konseli harus belajar
mengestimasi konsekuensi -
konsekuensi yang mungkin
terjadi dalam pengorbanan
pribadi, waktu, tenaga,
uang, resiko dan
sebagainya. Individu belajar
memperhatikan nilai -
nilai dan ikut
mempertimbangkan yang dianutnya
secara sadar dalam
pengambilan keputusan,
Selanjutnya
Setyawan,(1959) berpendapat bahwa
tujuan konseling adalah
agar konseli dapat:
1.
Merencanakan kegiatan
penyelesaian studi, perkembangan
karier serta kehidupannya
dimasa yang akan
dating,
2.
Mengembangkan seluruh
potensi dan kekuatan
yang dimilikinya seoptimal
mungkin,
3.
Menyesuaikan diri
dengan lingkungan pendidikan,
lingkungan masyarakat serta
lingkungan kerjanya,
4.
Mengatasi hambatan
dan kesulitan yang
dihadapi dalam studi,
penyesuaian dengan lingkungan
pendidikan, masyarakat, maupun
lingkungan kerja.
Oleh
karena itu, dari
paparan beberapa ahli
diatas. Maka Wisnu
Pamuja Utama, (2011) sendiri
berpendapat bahwa tujuan
konseling ialah Membantu
merubah perilaku konseli
agar lebih produktif,
membantu pemecahan masalah
baik masalah pribadi,
sosial, belajar, karier,
keluarga, dan keagamaan,
serta mendorong peserta
didik mampu mengambil
keputusan yang penting
bagi dirinya dalam
menemukan solusi sendiri.
G.
Bentuk Konseling
Keluarga
Kecenderungan pelaksanaan konseling keluarga adalah
sebagai berikut.
1.
Memandang klien
sebagai pribadi dalam konteks sistem keluarga. Klien merupakan bagian dari
sistem keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak dapat
mengesampikan peran keluarga.
2.
Berfokus pada
saat ini, yaitu apa diatasi dalam konseling keluarga adalah masalah-masalah
yang dihadapi klien pada kehidupan saat ini, bukan kehidupan yang masa
lampaunya. Oleh karena itu, masalah yang diselesaikan bukan pertumbuhan
personal yang bersifat jangka panjang.
3.
Dalam kaitannya
dengan bentuknya, konseling keluarga dikembangkan dalam berbagai bentuk sebagi
pengembangan dari konseling kelompok. Bentuk konseling keluarga dapat terdiri
dari ayah, ibu, dan anak sebagai bentuk konvensionalnya. Saat ini juga
dikembangkan dalam bentuk lain, misalnya ayah dan anak laki-laki, ibu dan anak
perempuan, ayah dan anak perempuan, ibu dan anak laik-laki, dan sebagainya
(Ohison, 1977)
4.
Bentuk konsleing
keluarga ini disesuaikan dengan keperluannya. Namun banyak ahli yang
mengajurkan agar anggota keluarga dapat ikut serta dalam konseling. Perubahan
pada sistem keluarga dapat dengan mudah diubah jika seluruh anggota keluarga
terlibat dalam konseling, karena mereka tidak hanya berbicara tentang
keluarganya tetapi juga terlibat juga dalam penyusunan rencana perubahan dan
tindakannya.
H.
Peranan Konselor
Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling
keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya
sebagai berikut.
1.
Konselor
berperan sebagai “facilitative a comfortable”, membantu klien melihat secara
jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri.
2.
Konselor
menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3.
Berusaha
menghilangkan pembelaan diri dan keluarga.
4.
Membelajarkan
klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan malakukan
self-control.
5.
Konselor menjadi
penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterpretasi
pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota keluarga.
6.
Konselor menolak
perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam respon-respon anggota
keluarga.
I.
Proses dan
Tahapan Konseling Keluarga
Tahapan konseling keluarga secara garis besar
dikemukakan oleh Crane (1995:231-232) yang mencoba menyusun tahapan konseling
keluarga untuk mengatasi anak berperilaku oposisi. Dalam mengatasi problem,
Crane menggunakan pendekatan behavioral, yang disebutkan terhadap empat tahap
secara berturut-turut sebagai berikut.
1.
Orangtua
membutuhkan untuk dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal ini
dapat dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sesi pengajaran.
2.
Setelah orang
tua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya, konselor
menunjukan kepada orang tua bagaimana cara mengajarkan kepada anak, sedangkan
orang tua melihat bagaimana melakukannya sebagai ganti pembicaraan tentang
bagaimana hal inidikerjakan.
3.
Secara tipikal,
orang tua akan membutuhkan contoh yang menunjukan bagaimana mengkonfrontasikan
anak-anak yang beroposisi. Sangat penting menunjukan kepada orang tua yang
kesulitan dalam memahami dan menetapkan cara yang tepat dalam memperlakukan
anaknya.
4.
Selanjutnya
orang tua mencoba mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah mereka
pelajari menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat member
koreksi ika dibutuhkan.
5.
Setelah terapis
memberi contoh kepada orang tua cara menangani anak secara tepat. Setelah
mempelajari dalam situasi terapi, orang tua mencoba menerapkannya di rumah.
Saat dicoba di rumah, konselor dapat melakukan kunjungan untuk mengamati
kemajuan yang dicapai. Permasalahan dan pertanyaan yang dihadapi orang tua
dapat ditanyakan pada saat ini. Jika masih diperlukan penjelasan lebih lanjut,
terapis dapat memberikan contoh lanjutan di rumah dan observasi orang tua,
selanjutnya orang tua mencoba sampai mereka merasa dapat menangani kesulitannya
mengatasi persoalan sehubungan dengan masalah anaknya.
J.
Kesalahan Umum
dalam Konseling Keluarga
Crane (1995) mengemukakan sejumlah kesalahan umum
dalam penyelenggaraan konseling keluarga diantaranya sebagai berikut:
1.
Tidak berjumpa
dengan seluruh keluarga (termasuk kedua orangtua) untuk mendiskusikan
masalah-masalah yang dihadapi.
2.
Pertama kali
orangtua dan anak dating ke konselor bersama-sama, konselornya suatu saat
berkata hanya orangtua dan anak tidak perlu turut dalam proses, sehingga
menampakkan ketidak peduliannya terhadap apa yang menjadi perhatian anak.
3.
Mengilmiahkan
dan mendiskusikan masalah, atau menjelaskan pandangannya kepada orangtua dan
bukan menunjukkan cara penanganan masalah yang dihadapi dalam situasi kehidupan
yang nyata.
4.
Melihat/
mendiagnosis untuk menjelaskan perilaku anak dan orangtua, bukan mengajarkan
cara untuk memperbaiki masalah-masalah yang terjadi.
5.
Mengajarkan
teknik modifikasi perilaku pada keluarga yang terlalu otoritarian atau terlalu
membiarkan dalam interaksi mereka.
6.
Kesalahan-kesalahan
dalam konseling keluarga semacam di atas sepatutnya dihindari untuk memperoleh
hasil yang lebih baik. Konselor tentunya diharapkan melakukan evaluasi secara
terus-menerus terhadap apa yang dilakukan dan bagaiman hasil yang dicapai dari
usahanya.
DAFTAR PUSTAKA
Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Universitas
Muhammadiyah Malang. Malang
Sayekti Pujosuwarno.1994.Bimbingan Dan Konseling
Keluarga.Menara Mas Offset. Yogyakarta
http://file.upi.edu/Direktori/A%20%20FIP/JUR.%20PSIKOLOGI%20PEND%20DAN%20BIMBINGAN/196611151991022%20%20YUSI%20RIKSA%20YUSTIANA/SAP,%20RPP/BIMBINGAN%20DAN%20KONSELING%20KELUARGA%20%5BCompatibility%20Mode%5D.pdf
http://cybercounselingstain.bigforumpro.com/konseling-pernikahan-f42/pendekatan-dan-bentuk-konseling-perkawinan-t63.htmIfdil.2007.Kerangka
Konseptual Konseling Pemuda dan Keluarga.
http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=104
Wahhh Good makalahnya..
BalasHapusmakasih kaka buat artikelnya ..
BalasHapusI like it.... (y)
BalasHapusBagus
BalasHapuslike it
BalasHapusinteresting ..
BalasHapussangat membantu, makasiii..
BalasHapusAku copas yah materinya hehehe
BalasHapussip materinya mba bro
BalasHapus